Kamis, 14 Juli 2016

Desa Bajo Gorontalo

kali ini di blog pertama aku,aku mau ceritain pengalaman pertama aku jalan-jalan di kota Gorontalo.Aku berangkat dari medan dari bandara Kualanamu Internasional Airport,mama aku mengambil flight pagi karena untuk sampai di gorontalo kita akan 3 kali transit yaitu medan-jakarta,jakarta-makassar,makassar-gorontalo

aku langsung to the point aja nih ya hehe..

pas aku udah sampe di kota Gorontalo,miris juga liat keadaan bandaranya padahal tuh kan banyak tempat wisata pulau gitu yang emang banyak peminat nya,kenapa aku bilang miris karna bandaranya tuh kecil kaya bandara di daerah yang emang terisolir kaya daerah yang terpencil gitu #yakalihehe tapi aku udah mulai
 bahagia juga si ngeliat perkembangan bandaranya karna mau dibangun ulang buat bandara yang baru dan hampir selesai yeayyy dan susah kalo mau pesen tiket gitu karna papa aku kerja disana aku jadi tau tau dikit heeheehe,setau aku yaa kalo mau kesana dari medan itu cuma ada 2 flight pagi sama sore atau siang gitu lainnya gadaa so... musti pesen tiket dari jauh jauh hari heehehe 


nahh foto yang diatas ini foto bandara djalaluddin yang lama 




dan ini bandar udara yang baru cantik kan ...

setelah aku sampai di Gorontalo,aku pun menuju kota tempat ayahku bertugas yaitu di Pohuwato,selama diperjalanan itu memakan waktu sekitar 3jam .Kami langsung pergi kesebuah desa yaitu desa Bajo,Torsi Aje itu adalah desa yang di atas air
 itu tampak dari depan tempat gapura penyebrangan untuk ke desa Bajo ada tempat parkirnya juga jadi ga perlu takut kehilangan kaca spion,btw kalo gasalah kan nitip mobilnya baayar berapa gitu aku lupa hehehe


itu foto aku berdiri jalan mau menuju tempat menyebrangnyaa ada sejauh 2-3 meter kurang lebih aku gatau pastinya berapa hehehe trus nanti kita naik ke perahu ojek perahunya kurang lebih 5000 satu orang 10.000 pp(pulang balik) setelah 15 menit sampai di desa bajo kami kami pun langsung memilih tempat penginapan , seru dan asik juga karna disaat kita tidur berasa gitu bergerak rumahnya seperti terombang ambing gitu 
untuk makan siang dan malam kalian gausa khawatir karna di desa terapung ini juga menyediakan restoran yuhuuu selain itu harga nya juga worth it ikan yang besar disana harga nya ga semahal dikota so puas puasin makan ikan disini yaa hehehe








itu salah satu foto desa bajo [maaf kalau kualitas fotonya ga bagus aku belum mendalami ilmu fotography ]

Provinsi Gorontalo memiliki obyek wisata laut yang terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, yang berjarak tujuh jam perjalanan ke arah barat dari Kota Gorontalo.

Obyek wisata itu adalah kampung Suku Bajo, yang dikenal sebagai pelaut ulung, di Desa Torosiaje.
Desa Torosiaje atau juga dikenal sebagai Kampung Bajo berada di atas air laut Teluk Tomini dan berjarak sekitar 600 meter dari daratan.
Ada sekitar 250 rumah di Kampung Bajo yang berbentuk panggung di atas perairan Teluk Tomini.
Semua rumah di kampung yang dihuni sekitar 1.400 jiwa itu terbuat dari kayu dan masing-masing rumah terhubung dengan koridor yang juga terbuat dari kayu.
Panjang koridor yang berbentuk huruf "U" itu sekitar 2,2 kilometer. Setiba di dermaga, setiap pengunjung yang hendak ke Kampung Bajo bisa naik ojek perahu yang dipungut ongkos Rp 2.000 setiap orang.
Waktu tempuh dari dermaga ke Kampung Bajo sekitar 5-7 menit. Uniknya, begitu memasuki perkampungan Bajo, perahu akan melintas di bawah koridor kayu sekaligus sela-sela rumah warga.
Tak perlu khawatir mencari penginapan di Kampung Bajo, khususnya bagi pengunjung yang ingin bermalam di sana.
Di bagian ujung Kampung Bajo ada penginapan yang dikelola Dinas Pariwisata Kabupaten Pohuwato.
Dengan kondisi yang sederhana, setiap kamar dipungut biaya Rp 100.000. Ada enam kamar yang tersedia di penginapan tersebut.
"Selain kamar penginapan, rumah warga di Kampung Bajo juga disewakan bagi tamu. Tarifnya pun sama, yakni Rp 100.000 per kamar, " ujar Akbar Arsyad Mile (37), penanggung jawab pariwisata di Kampung Bajo




eittsss  Torosiaje Laut juga punya kisah unik tentang Sengkang, si manusia ikan! Masyarakat di sana bilang, sewaktu kecil, Sengkang seperti anak biasa. Namun, suatu hari, tiba-tiba, ia masuk ke dalam laut dan tidak ingin ke darat lagi.
Sengkang akhirnya hidup di dalam laut. Ia makan, tidur, dan bermain di laut. Karena selalu berada di dalam laut, badannya sampai berlumut. Sengkang meninggal dunia pada umur 38 tahun.  
Masyarakat Torosiaje Laut mengaku mereka mengenalnya. Ada yang suka mengajak Sengkang bermain dan bercanda. Ada juga yang memotong rambut  Sengkang jika rambutnya sudah panjang. Sayangnya, foto-foto mereka bersama Sengkang selalu tidak bisa dilihat jelas. jika difoto mungkin menjadi blur dan yang pasti tak jelas  Akhirnya, Sengkang sering dianggap kisah legenda dari Torosiaje Laut. 





 #gorontalo #desabajo #pohuwato #marissa